Pagi menyambut.
Tidak biasanya aku tidak meminum kopi pagiku. Kopi pagiku
biasanya terasa manis dan hangat dengan adanya ucapan “selamat pagi” dari
notifikasi pop-up di ponselku.
Tetapi, kamu tidak lagi mengucapkannya, rasanya berubah
pahit ditambah aku mengingat apa yg terjadi semalam.
Aku pun tidak begitu semangat menjalani hari, karena
konsentrasiku selalu teralihkan dengan adanya sosok kamu di pikiranku. Aku yang
selalu memberi waktu untuk mengecek ponselku, hanya untuk memastikan apakah
kamu sudah makan, sekarang tidak lagi.
***
Siang datang.
Selera makanku menurun, sewayahnya kamu mengucapkan “selamat
makan siang! Jangan makan terlalu banyak jika tidak ingin terlalu lelah!” tapi tidak lagi.
Kalaupun aku makan, semuanya hambar. Tidak ada rasa
sedikitpun tersangkut dilidahku, yang tersangkut hanyalah satu, namamu. Yang
harusnya ku ucapkan “selamat siang! Semoga harimu menyenangkan!” tapi tidak
lagi.
***
Sore menjelang.
Letih mendera, aku hanya ingin mengambil sebuah remote
control untuk mem-forward waktu ketika dimana aku tidur terlelap tanpa harus
menghiraukan kamu dipikiranku.
Tapi apalah daya, aku harus menjalani hari ini dengan adanya
kamu dipikiranku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu.
Ingin aku melontarkan “jangan lupa kamu membasuh diri kamu
supaya terlihat lebih segar! Dan jangan lupa bersolek untuk makan malam kita
nanti!” tapi tidak lagi.
***
Malam menjemput.
Jika ada satu kata yang bisa kusimpulkan untuk hari ini,
bisakah aku teriak “Lelah”?
Karena kata itu similar dengan keadaanku sekarang, aku
bergelut dengan kerasnya hariku, ditambah aku mendapatkan perang dipikiranku
untuk menyangkal keberadaanmu, tapi aku tak pernah bisa, tak sekalipun.
“selamat malam! Terima kasih atas makan malam yang indah tadi, ya! I love you to the moon and never want to coming back.”
“selamat malam bagimu juga! Sama-sama, sudah seharusnya aku memberimu makan, kan? Haha. I love you even more. If I could, I love you to the moon then to the mercury, then to the venus, and also.. to the pluto. But never coming back.”
Percakapan tadi harusnya sudah ada di ponselku dan kusimpan
dalam noteku. Tapi tidak lagi, hanya kamu yg bisa meladeni betapa jeleknya leluconku tadi,
dengan caramu.
***
Jika aku berteriak, apakah kamu akan mendengar?
Jika aku berteriak namamu, apakah kamu akan mendengar?
Jika aku menyapamu, apakah kamu akan menyapaku kembali?
Jikapun aku merayumu untuk makan malam bersamaku lagi , and
having those frickin' little conversation for the second time, would you?
Mungkin semua jawaban yg tepat untuk semua pertanyaan tadi,
adalah tidak.
Dan mungkin ditambah “tidak akan pernah.”
Karena aku tau betul siapa diriku disaat sekarang
Aku hanya titik kecil dilukisanmu
Aku tertutup garis besar yg ada tepat disampingku, dia.
Dialah yg selalu kau perhatikan
Jikapun aku sebuah titik, ingin rasanya aku berkata
“tak kan ada garis sebelum adanya titik”
Sama halnya dengan
“tak kan ada seni indah dalam lukis hidupmu tanpa adanya
aku”
Kalaupun aku menangis, aku belum siap.
Tapi sudahlah, memang awalnya aku pengecut, aku bahkan tidak
bisa memberikan pernyataan:
“maukah kamu jadi pacarku?” saat aku mengajakmu berkencan. Aku hanya meninggalkan sebuah batangan coklat dan secarik kertas yang akan lapuk dimakan waktu yang berisi frasa yg kuanggap manis, tapi mungkin kamu sudah lupa apa yg aku tulis dan apa maknanya.
Hari sudah larut, jam digitalku menandakan bahwa sekarang,
adalah jam 2 pagi
lewat 30 menit dan 20,13 detik. Aku tersenyum. Itukan mirip.. ahsudahlah.
Seraya aku mematikkan lampu, dan menutup mataku, aku tak
lupa menyebut namamu dalam kedamaian disana.
Selamat malam, pengendara unicorn. Oh bukan, kamu punya peliharaan fiksi baru, namanya Nesse, bukan?
Jadi, Selamat malam pengendara Nesse!
No comments:
Post a Comment