Wednesday, May 21, 2014

Spectrum.

Breathing you in when I want you out.
Finding our truth in a hope of doubt.
Lying inside our quiet drama.

Wearing your heart like a stolen dream.
Opening skies with your broken keys.
No one can blind us any longer.

We'll run where lights won't chase us.
Hide where love can save us.
I will never let you go.

We'll run where lights won't chase us.
Hide where love can save us.
I will never let you go.

Friday, May 2, 2014

Last Night, I Dreamt About You (II).



Pagi menyambut.
Tidak biasanya aku tidak meminum kopi pagiku. Kopi pagiku biasanya terasa manis dan hangat dengan adanya ucapan “selamat pagi” dari notifikasi pop-up di ponselku.

Tetapi, kamu tidak lagi mengucapkannya, rasanya berubah pahit ditambah aku mengingat apa yg terjadi semalam.

Aku pun tidak begitu semangat menjalani hari, karena konsentrasiku selalu teralihkan dengan adanya sosok kamu di pikiranku. Aku yang selalu memberi waktu untuk mengecek ponselku, hanya untuk memastikan apakah kamu sudah makan, sekarang tidak lagi.


***

Siang datang.
Selera makanku menurun, sewayahnya kamu mengucapkan “selamat makan siang! Jangan makan terlalu banyak jika tidak ingin terlalu lelah!” tapi tidak lagi.

Kalaupun aku makan, semuanya hambar. Tidak ada rasa sedikitpun tersangkut dilidahku, yang tersangkut hanyalah satu, namamu. Yang harusnya ku ucapkan “selamat siang! Semoga harimu menyenangkan!” tapi tidak lagi.



 ***


Sore menjelang.
Letih mendera, aku hanya ingin mengambil sebuah remote control untuk mem-forward waktu ketika dimana aku tidur terlelap tanpa harus menghiraukan kamu dipikiranku.

Tapi apalah daya, aku harus menjalani hari ini dengan adanya kamu dipikiranku, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu.

Ingin aku melontarkan “jangan lupa kamu membasuh diri kamu supaya terlihat lebih segar! Dan jangan lupa bersolek untuk makan malam kita nanti!” tapi tidak lagi.


***


Malam menjemput.
Jika ada satu kata yang bisa kusimpulkan untuk hari ini, bisakah aku teriak “Lelah”?
Karena kata itu similar dengan keadaanku sekarang, aku bergelut dengan kerasnya hariku, ditambah aku mendapatkan perang dipikiranku untuk menyangkal keberadaanmu, tapi aku tak pernah bisa, tak sekalipun.

“selamat malam! Terima kasih atas makan malam yang indah tadi, ya! I love you to the moon and never want to coming back.”

“selamat malam bagimu juga! Sama-sama, sudah seharusnya aku memberimu makan, kan? Haha. I love you even more. If I could, I love you to the moon then to the mercury, then to the venus, and also.. to the pluto. But never coming back.”

Percakapan tadi harusnya sudah ada di ponselku dan kusimpan dalam noteku. Tapi tidak lagi, hanya kamu yg bisa meladeni betapa jeleknya leluconku tadi, dengan caramu.



***

 

Jika aku berteriak, apakah kamu akan mendengar?

Jika aku berteriak namamu, apakah kamu akan mendengar?

Jika aku menyapamu, apakah kamu akan menyapaku kembali?

Jikapun aku merayumu untuk makan malam bersamaku lagi , and having those frickin' little conversation for the second time, would you?


Mungkin semua jawaban yg tepat untuk semua pertanyaan tadi, adalah tidak.
Dan mungkin ditambah “tidak akan pernah.”
Karena aku tau betul siapa diriku disaat sekarang
Aku hanya titik kecil dilukisanmu
Aku tertutup garis besar yg ada tepat disampingku, dia.
Dialah yg selalu kau perhatikan


Jikapun aku sebuah titik, ingin rasanya aku berkata

“tak kan ada garis sebelum adanya titik”

Sama halnya dengan

“tak kan ada seni indah dalam lukis hidupmu tanpa adanya aku”


Kalaupun aku menangis, aku belum siap.

Aku belum siap menelan ludah dan gengsiku, karena aku menangisi seseorang yg jelas-jelas sudah tak ingin air matanya jatuh karenaku.
Ingin rasanya aku memaki diriku karena aku seorang pengecut yang bahkan tidak bisa mengatakan bahwa semalam diriku telah memimpikan kamu


Tapi sudahlah, memang awalnya aku pengecut, aku bahkan tidak bisa memberikan pernyataan:

“maukah kamu jadi pacarku?” saat aku mengajakmu berkencan. Aku hanya meninggalkan sebuah batangan coklat dan secarik kertas yang akan lapuk dimakan waktu yang berisi frasa yg kuanggap manis, tapi mungkin kamu sudah lupa apa yg aku tulis dan apa maknanya.

Hari sudah larut, jam digitalku menandakan bahwa sekarang,
adalah  jam 2 pagi lewat 30 menit dan 20,13 detik. Aku tersenyum. Itukan mirip.. ahsudahlah.
Seraya aku mematikkan lampu, dan menutup mataku, aku tak lupa menyebut namamu dalam kedamaian disana.

Selamat malam, pengendara unicorn. Oh bukan, kamu punya peliharaan fiksi baru, namanya Nesse, bukan?
Jadi, Selamat malam pengendara Nesse!

Last Night, I Dreamt About You (I).


Aku berada didunia yang menenangkan dan berbeda dari biasanya, aku ada didunia yang mereka sebut mimpi. Entah ada apa, mimpiku terlihat begitu nyata dan berwarna, lalu, semuanya berubah menjadi kelam, abu-abu.


Ketika kudapati sosok yg kukenal, tapi.. aku tak bisa memanggilnya, menyebut namanya, atau bahkan mengucapkan “hai”. Lalu sosok itu pergi menjauh, berlari. Hilang.


Aku masih tersangkut disini, aku tak bisa keluar. Aku harus tau siapa sosok itu, aku terus mencari kemana dia pergi, kemana ia berlari. Namun ditengah nafas yg terengah-engah, sebuah pertanyaan mencuat.

“Apakah itu kamu?”
“Apakah itu dia?”
“Tapi kenapa bisa dia masuk begitu saja?”

Aku berteriak seketika aku terbangun.
Kudapati diriku tersengal mengambil nafas yg sempat hilang sejenak karena baru saja aku memimpikan hal yg terlihat begitu nyata, tapi.. tapi.. ternyata hanya.. mimpi.


“Bisakah hal itu terulang?” tanyaku.

"Kalaupun itu dia yg kumimpikan, apakah hal yang sama terjadi pada mimpinya?"

"Kalaupun itu dia yg kumimpikan, apakah itu sebuah pertanda jika dia rindu?"

"Atau.. aku?"