Saturday, December 7, 2013

Unfinished Business.

Nyaris setahun aku mengenalmu.
dan nyaris setahun juga aku merindumu.

Sebelumnya, itu hanya sebuah pertemuan kecil .
Tetapi melebar jauh.
Sesampainya kita disaat dimana hari sedang hujan sekelebat.
Dan kamu melihatku.

Ya, dengan tatapan tajammu.

Sesingkatnya cerita.
Kita menjalin sebuah hubungan dimana hanya ada aku dan kamu didalamnya.

Tapi semuanya berubah.
Maksudku kita yang berubah.

Kita seakan ditepi tebing.
Kita layaknya orang tak mengenal satu sama lain.


***


Aku tak tahu kapan harus menyelesaikan urusan yang belum kita selesaikan, dear.
Dan bahkan, aku tak tahu apa yang benar-benar harus diselesaikan.

Apa memang sesungguhnya, tidak pernah ada kata kita?
Tidak pernah ada aku dan kamu didalam cerita itu?

Tapi, apa sesungguhnya memang ada?
Namun, jikalaupun ada.

Kamulah yang selalu meyangkal keberadaan aku didalam hidup kamu.
Atau mungkin, akulah yang menyangkal keberadaanmu?


***


Aku tak pernah menuntut diriku berada diurutan pertama didalam hidup kamu
Aku tak pernah memaksa
Tak akan mau

Aku tak pernah menuntutmu mengizinkan aku masuk dalam hidupmu
Aku tak pernah memaksa
tak akan mau

Aku tak pernah menuntutmu untuk selalu menatapku tajam setiap kali kita bertemu
Aku tak pernah memaksa
Tak akan mau



***


Biarkan Februari dan tanggal yang enggan aku sebutkan menjadi saksi.
Biarkan sebatang coklat dan secarik kertas dengan puisi amatir yang menjadi media.
Dan, Biarkan Sabtu indah dikantin dengan suara riuhnya menjadi tempat yang terbuang.

No comments:

Post a Comment