Cinta itu ibarat perang, berawalan dengan mudah namun sulit di akhiri.
Suatu hari, bermula dari pertemuan-pertemuan yang menyenangkan
disekolah. Kebiasaan-kebiasaan ramah, saling bertatap wajah. Bercanda
gurau habiskan masa-masa sekolah penuh
suka, penuh gembira. Hingga akhirnya tercipta sebuah rasa yang dinamakan
cinta.
Tak terasa masa-masa sekolah akan berakhir didepan mata. Masa muda yang
penuh cita siap menantang dunia berupaya mengubah jalan cerita di
hidupnya. Kemudian ada cinta yang merangkul rasa menemani ceria yang
sebentar lagi akan berbalut luka. Karna akan berpisah selamanya.
***
Begini ceritanya,
Zahira dan Julian, sejak kecil sampai remaja selalu bersama. Alasan
apapun tak pernah membuat mereka berpisah. Tak pula mereka hanya sahabat
saja, melainkan sejoli yang tangguh dan kokoh dalam cintanya.
Meski Julian tau Zahira tak bisa bertahan hidup lebih lama darinya. Hal
itu tak membuatnya goyah ataupun menyerah mencintai kekasihnya. Hanya
saja, Julian tak kuasa menahan airmatanya manakala Zahira memintanya
pergi dan mencari pengganti dirinya yang tak sampai 17 bulan lamanya
menikmati dunia.
***
Kantin riuh, tepat dipojok sekolah akan jadi saksi bisu cinta mereka. Tempat favorit dan tempat paling
memorable karena mengingat disitulah mereka bertemu. alias.. tempat paling berkesan, bagi... mereka.. berdua...
Itu semua akan jadi kenangan yang kemudian akan segera pudar sebagaimana
tinta hitam yang melekat pada kertas putih kemudian terkena air lalu
memudar dan akhirnya menghilang.
***
Ada pula cinta yang coba memaksa, datang menghantui Julian, memburamkan
pandangannya agar Zahira menghilang dari hatinya. Lantas cinta itu
tak kuat merasuk ke hatinya hingga hilang dan berlalu begitu saja.
Zahira-lah pemilik hati Julian seutuhnya. Hingga tak ada celah yang
tersisa.
Tak sedikit air mata Julian yang tertumpah untuk Zahira, manakala
melihat tempat yang sering mereka lalui berdua hanya akan jadi
kenangan.
Tak kalah hebat cinta Zahira untuk Julian, korban rasa jadi hal biasa
untuknya. Berpura-pura lupa telah mencinta, menyiksa hatinya demi
kebohongan belaka. Hingga Julian tak terluka lagi dihatinya.
Meski ceroboh
tapi Zahira melakukan yang terbaik untuk kekasihnya.
***
Tak terasa sampai pada waktu dimana 1 bulan kebersamaan mereka hanya tersisa 1 jam saja.
Tak banyak yang bisa dipersembahkan Julian untuk Zahira yang waktunya
hanya tersisa satu jam saja. Kemudian handphonenya berdering. Tak lama
membuka handphone, dia menangis ketika melihat alarm penanda berbunyi, menandakan waktu bersama Zahira hampir habis.
Julian memang lelaki berlebihan, sampai-sampai, memasang penanda masih ada berapa jam lagi bersama Zahira. lalu ketika membuka handphone-nya, beginilah tulisannya
‘waktu anda tersisa 1
jam’
Begitulah tertulis pada catatan handphonenya. Pantas airmatanya
berderai.
***
“Kenapa Reza menangis?” ucap Zahira.
“Aku hanya bahagia pernah berdampingan denganmu. Airmata ini sepertinya
tulus keluar dari mataku,
Julian hanya tersenyum agar Zahira tak
mengkhawatirkan perasaannya.
“Meski itu bohong tapi aku bahagia mendengar ucapanmu,” tepisnya ragu perasaan Reza.
Julian hanya tersenyum. Kemudian bergerak, jalan menuju Anastasha.
“Hanya ada satu jam waktuku bersamamu, lalu apa yang kamu inginkan
dariku? Apa aku harus melompat dari gedung tertinggi itu,” ujar Julian
menunjuk gedung paling tinggi ditempat mereka berada.
“Atau kamu mau aku
menunggumu kembali?” lanjut Julian.
***
Airmata tulus mulai meleleh dari mata Zahira.
“Sudah saatnya cintamu
diperbarui! Hari ini kurasa cintamu sudah sampai dibatas akhir.”
“Kalaupun kudapatkan kesempatan itu.
"Aku hanya ingin memperbarui cintaku dengan orang yang sama bukan dengan yang baru.” ujar Julian.
“Bagaimana jika orang yang sama itu tiba-tiba menghilang?” Lanjut Zahira.
“Aku akan menunggunya kembali!" Kapanpun aku menemukannya, aku akan
mencintainya lagi.
Seperti ini, iya benar-benar seperti ini.
***
Sudah setengah jam waktu berlalu hanya untuk berdebat apakah Julian mau memperbaharui cintanya demi Zahira. tetapi.. jawabannya tetaplah tidak.
Julian dan Zahira sama-sama tidak mau me-munafikki perasaan mereka masing-masing,
no, not for this time.
Tapi, ketika mereka melakukan itu, bukan bahagia yang didapat, tetapi malah goresan dan luka yang dirasa.
What a Pathetic.
***
Zahira.menangis tanpa suara, melangkah tak bernada, kemudian bergerak, berdiri tepat membelakangi lelaki yang di cintainya.
“Waktumu hanya tersisa setengah jam. Lalu apa yang kamu inginkan dariku?” ujar Julian
“Gendong aku kemanapun kamu mau, ketika kamu lelah, turunkan aku. kemudian bila aku diam dan berjalan menajuh. jangan pernah
menoleh kebelakang. Jangan pernah berbalik melihatku, biarkan aku
menghilang.”
“Sekali lagi aku mohon, saat aku tiada jangan pernah berbalik untuk
mencariku, biarkan saja aku menghilang. Kumohon biarkan aku jadi bagian
terindah dimasa lalumu. Biarkan aku tergantikan oleh orang lain.”
Lanjut Zahira terbata-bata dengan airmata yang membasahi pipinya.
“Bagaimana kubisa lakukan itu? Sementara sebentar saja aku tak
melihatmu, aku berlari mencarimu. Mungkinkah aku bisa membiarkanmu pergi
untuk selamanya? Aku tak akan menemukanmu lagi meski aku berlari lebih
cepat dari biasanya.” ucap Julian
***
“Sebelum bertemu denganmu, aku hanya punya lem dan benang ditepian
hatiku. Kemudian kamu datang merajut hatiku dengan benang itu, dan kamu
kuatkan rajutan itu dengan lemnya. Lantas, bagaimana ia akan terbuka
lagi?” lanjut Julian dengan airmata tulus yang perlahan menetes.
“Biarkan ia sampai mengeras, tak lama ia akan pecah. Kemudian ada celah
yang terbuka disana. Perlahan benangnya akan putus karna rapuh. Lalu ia
sepenuhnya akan terbuka.” ucap Zahira enteng, tetapi dengan nada masih terbata-bata.
“Tidak! Jika benangnya putus dan hatiku terbuka, aku akan merajutnya
kembali, meski itu menyakitkan. Tapi aku akan melakukannya.” ujar Julian
“Biarkan saja ia terbuka.” Suara Zahira mulai letih, matanya terpejam. Tak lama badannya memberat.
Akhirnya, cinta mereka berhenti pada masa yang berbahagia. Dimana mereka
saling tau apa yang dirasa, meski airmata yang jadi saksinya. Cukup
yang dicinta tau apa yang di rasa, itu sudah cukup untuk bahagia.
Fin.
***
Itu tadi cerpen yang gue temuin di gugel akhir-akhir ini. cerpen itu udah gue edit sedikit.
Yang gue seneng dari cerpen itu adalah, masing-masing dari mereka punya cara sendiri untuk me-munafikki hati. entah kenapa gue salut. tapi in the end, mereka pasti bakalan nyerah dengan keadaan.
karena ga semua orang berhasil dengan drama yang mereka buat-buat sendiri. huh.
That's all from today!
thanks for reading.
Source : http://cerpen.gen22.net/2013/09/cerpen-cinta-bukan-cerita-biasa.html